Di Negeri yang Merawat Kebodohan, Menjaga Pikiran Tetap Waras Adalah Perlawanan Paling Sunyi
Pendidikan tidak dibiarkan rusak secara tidak sengaja, ia dimatikan perlahan agar kita lupa cara mempertanyakan ketidakadilan.
Shandi Irawan
September 04, 2026 • 30 Views • 4 min read
Malam ini gerimis turun pelan, menimpa kaca jendela yang terbakar temaram lampu jalan. Di atas meja, layar ponsel saya masih menyala, menampilkan rentetan tenggat waktu pekerjaan dan tumpukan berita harian yang rasanya makin hari makin melelahkan untuk dicerna.
Tentang atap sekolah dasar di pelosok yang roboh menimpa murid-muridnya saat belajar. Tentang guru-guru honorer yang mendedikasikan belasan tahun hidupnya demi mencerdaskan bangsa, namun digaji lebih murah dari biaya sekali parkir kendaraan pejabat. Tentang anak-anak muda berkeringat dingin menatap tagihan biaya kuliah yang melambung tinggi—memaksa mereka mengubur cita-cita hanya karena lahir dari keluarga yang tak sanggup membayar uang pangkal.
Lalu di tengah semua riuh berita itu, saya tertegun pada satu pertanyaan yang terus bergema di kepala:
Sejak kapan kita mulai menganggap semua pengabaian ini sebagai hal yang wajar?
Kerusakan yang Tidak Pernah Kebetulan
Kita sering kali menghibur diri dengan berpikir bahwa keterpurukan pendidikan di Indonesia adalah akibat dari "keterbatasan anggaran" atau "kerumitan geografi". Kita membayangkan para birokrat di atas sana sedang pusing memutar otak, berusaha keras memperbaiki sistem yang rumit ini.
Namun, makin hari, prasangka baik itu terasa makin naif.
Pendidikan di negeri ini tidak pernah roboh karena kecelakaan. Ia dibiarkan lapuk secara sengaja.
Ketika triliunan rupiah dengan begitu mudah digelontorkan untuk program-program pencitraan yang instan, memanjakan mata, dan riuh di media sosial, anggaran pendidikan justru terus dipangkas, diacak-acak, dan dialihkan demi memenuhi syahwat politik jangka pendek. Sekolah dipandang sekadar proyek pengadaan semen dan batu bata. Guru-guru dibiarkan bertahan hidup dalam kemiskinan struktural, seolah-olah rasa lapar mereka bisa dikenyangkan hanya dengan puji-pujian dan sebutan "pahlawan tanpa tanda jasa".
“Kebodohan yang dipelihara bukan sekadar masalah kurangnya fasilitas, melainkan bentuk penindasan yang paling halus.”
Ada pola yang teratur dan rapi dari semua ini. Membiarkan pendidikan terpuruk adalah cara paling efisien untuk melanggengkan kekuasaan.
Masyarakat yang lelah—yang harus menghabiskan seluruh energi dan waktunya setiap hari hanya untuk memikirkan cara bertahan hidup esok pagi—tidak akan pernah punya waktu untuk membaca kebijakan publik, apalagi mengkritisinya. Rakyat yang tidak pernah dibiasakan berpikir kritis akan jauh lebih mudah diatur, lebih gampang dipuaskan dengan bantuan sosial berkala, dan lebih cepat lupa pada janji-janji manis yang tak pernah ditepati.
Mencetak Pekerja, Bukan Manusia
Sistem yang ada hari ini tidak dirancang untuk memanusiakan manusia. Ia dirancang untuk mencetak sekrup-sekrup kecil bagi mesin industri yang murah.
Kita dituntut untuk menjadi "Generasi Emas", disuruh bersaing di tingkat global, tetapi pada saat yang sama, akses terhadap buku-buku bermutu diberi harga yang tak terjangkau. Ruang-ruang diskusi akademis dicurigai, dan institusi pendidikan tinggi dikomersialisasi hingga berubah fungsi menjadi pasar jualan ijazah.
Anak-anak diajarkan untuk menghafal, bukan mempertanyakan. Mereka dididik untuk patuh pada otoritas, bukan melatih keberanian untuk mencari kebenaran.
“Mereka tidak pernah takut pada rakyat yang miskin harta; mereka hanya takut pada rakyat yang mulai membaca dan berpikir jernih.”
Ketika seseorang mulai bertalar dan mempertanyakan kenapa hidupnya begitu sulit, jawaban yang diberikan sistem selalu sama: "Kamu kurang bekerja keras," atau "Kamu kurang bersyukur." Narasi personalisasi masalah ini dipakai secara masif untuk menutupi kenyataan pahit bahwa sistemnya sendiri yang sedang tidak bekerja untuk rakyatnya.
Menolak Mati Rasa
Kadang, ada rasa lelah yang amat sangat. Rasanya jauh lebih mudah untuk menutup mata, mematikan notifikasi berita, dan berpura-pura bahwa dunia di luar sana baik-baik saja. Menjadi acuh sering kali terasa lebih menenangkan daripada terus-menerus memelihara amarah atas hal-hal yang tampaknya tak bisa kita ubah sendirian.
Namun, di situlah letak jebakannya. Ketika kita berhenti marah, ketika kita mulai menerima ketidakadilan sebagai takdir, saat itulah mereka benar-benar menang.
Malam semakin larut. Di tengah sunyi kamar ini, saya menyadari bahwa membaca, menulis, mempertanyakan hal-hal yang dianggap wajar, dan menolak dibodohi oleh retorika manis panggung politik mungkin tidak akan langsung memperbaiki atap sekolah yang bocor besok pagi.
Tapi setidaknya, itu adalah cara saya untuk memastikan bahwa pikiran ini belum sepenuhnya dijajah.
Menjaga daya kritis hari ini memang terasa amat dingin dan sepi. Namun, di negeri yang sedang giat-giatnya merawat kebodohan, menolak untuk berhenti berpikir adalah satu-satunya cara agar kita tidak ikut tenggelam.